Berdusta
Air mata dibalik jeruji dusta
sedari waktu itu
Aku terus berpikir dan membayangkan
Bahagia juga mulia,
Namun, bahagia itu harus kujaga baik-baik dalam pahitnya kenyataan.
Yang mulia, pun. Telah menjadi cerita.
Seiring waktu, rasa tamparan itu semaaakin terasa.
Menamparku agar aku segera bangun dari pikiranku.
Aku bahagia.
Sungguh? Aku bahagia. Dan sangat bahagia.
Aku berdusta! Dan cuma itu yang dapat kulakukan.
Aku baik. Baik dalam menjaga diriku tetap tersenyum.
Sangat baik!. Tapi membodohi diri sendiri?
Berbahagilah wahai diri.
Jika memang itu bisa.
Menjaga apa yang ada, sampai telah tiada.
Merampas kedermawanan hatiku yang berusaha jujur.
Terlalu pandai akalku untuk berbohong pada diriku sendiri.
Namun, tetap bangkai akan tercium.
Bagai kebohongan yang ditutupi pasti akan terbongkar.
Lihatlah cermin itu.
Ia memantulkan gambarmu.
Lihatlah itu, dengan nyata jelas ditampakkan seperti apa sekarang dirimu.
Cerminpun tak dapat berbohong.
Lalu mengapa akal berupaya berbohong?
Sebuah dusta yang sia-sia
Komentar
Posting Komentar