Puisiku untuk tanah air

Hay hay sobat. Apakah kabarmu baik seperti kabarku saat ini? Hembb aku harap tetap baik saja ya, yahh meskipun banyak rasa sakit atas ketidak adilan yang tercipta di negeri kita ini. Tapi yakinlah masih banyak nikmat dan kebahagiaan walaupun terkesan sederhana. Ingatlah rasa bersyukur dan tetap berbahagia. Eitzzz bahagia gk harus selalu sama doi kok. Kita bisa bahagia dengan cara kita masing-masing, menghabiskan waktu dengan sahabat, menikmati waktu dengan segepok tugas yang nampar mata biar kuat begadang, dan bahagia ketika melihat orang yang kita sayangipun ikut bahagia. Jadiii nikmatilah kebahagiaan ini ya sobat. Disini aku gak panjang lebar curhat yaa, aku cuma mau memberikan pendapat dan aspirasiku yang seperti ini. Dan jika kamu, berbeda pendapat dengan pusiku silahkan kritik positif. Dan inilah puisi yang bebas menyampaikan aspirasi. Wadah kita untuk bersastra yang terkandung makna.. maaf ya sobat kalau ada salah kata.. aku gk tau lo kalau kamu tersinggung atau enggaknya. Hehehe.. baiklah silahkan berekspresi dengan puisi perdanaku ini!. Salam sastra!😊








NYANYIAN TANAH AIR


Menjerit tangis yang semakin terhimpit,
Sesak akibat terisak-isak kepiluan,
Hampa... rasanya ruangan ini
Aku ingin tinggalkan tanah ini!
Bukan karena tak nyaman, bukan pula tak cinta
Melainkan muak atas ketidak adilan yang terjadi
Kami yang selalu dianggap kaum bawah!
Yang diabaikan
Yang suaranya tak begitu didengarkan
Sumbang...
Membisu...
Apalagi dihormati!


Wahai kalian Tuan Tikus Berdasi
Yang dengan kepintaranmu mampu untuk membodohi kami
Lewat janji dan orasi dustamu
Memang, ada yang kau tunaikan
Namun, saat kami membuka mulut atas ketidak adilan yang ada
Dengan mudahnya kau membungkam kami
Dibisukan, dilupakan dan bahkan berani
Mencabut hak asasi kami


Kaulah yang terpatri dalam ingatan
Berharap kau berbakti dan mengabdi
Karena kau yang menanggung amanah
Atas kesejahteraan kami
Berharap untuk musnah sejak pangkal
Dan terpangkas sampai ujung
Bukankah itu mimpi? 😂


Tuanku, angkatlah kakimu dari pengabdianmu
Jika memang kau mengharap laba tanpa iba
Dari tangan rakyatmu sendiri
Pandanglah mata sayu yang geram dan muak ini
Atas ketidak adilan di negeri ini

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biarkan ia terkenang

Meraih mimpi bersamanya